Saya meninggalkan Panyabungan dua puluh tahun lalu dengan sebuah tas ransel, ijazah SMA yang baru kering tintanya, dan doa ibu yang terucap pelan di pintu rumah. Hari ini saya bekerja sebagai manajer senior di sebuah perusahaan di Jakarta. Perjalanan itu tidak mudah, tapi sangat mungkin dilalui siapa saja yang punya tekad.
Berikut tujuh pelajaran yang ingin saya bagikan kepada adik-adik yang baru saja lulus atau sedang berencana merantau:
1. Bawa Identitasmu, Jangan Tinggalkan Jati Diri
Satu hal yang paling saya syukuri adalah saya tidak pernah malu mengakui bahwa saya orang Mandailing dari Panyabungan. Justru identitas itu yang membuat saya unik di antara ribuan perantau. Budaya Mandailing — kerja keras, pantang menyerah, menjaga harga diri — adalah modal karakter yang tidak ternilai. Jangan tergoda untuk "membuang" identitas demi diterima lingkungan baru. Orang yang paling dihormati di rantau biasanya adalah mereka yang paling kuat memegang karakter aslinya.
2. Bangun Jaringan Sejak Hari Pertama
Begitu tiba di kota tujuan, cari komunitas PASMADA atau komunitas orang Mandailing di sana. Mereka adalah orang-orang yang sudah lebih dulu mengalami apa yang akan kamu alami — bisa menunjukkan kontrakan terjangkau, lapangan kerja, hingga warung yang rasanya seperti masakan rumah. Bergabung dengan jaringan alumni bukan tanda lemah. Itu adalah investasi relasi yang akan berbuah berlipat ganda.
3. Keuangan Adalah Panglima
Di rantau, tidak ada orang tua yang bisa ditelpon untuk minta "tambahan" kapan saja. Kelola keuangan dengan disiplin sejak awal. Catat pemasukan dan pengeluaran, sisihkan minimal 20% penghasilan untuk tabungan darurat sebelum memikirkan yang lain. Saya pernah melihat teman sekampung yang gajinya lebih besar dari saya, tapi selalu kehabisan uang karena tidak bisa membedakan kebutuhan dan keinginan.
4. Jadilah Orang yang Bisa Diandalkan
Di dunia kerja, reputasi adalah segalanya. Datang tepat waktu, selesaikan pekerjaan sebelum deadline, jaga komitmen. Hal-hal kecil ini yang akan membedakanmu dari ratusan kompetitor yang punya ijazah dari universitas lebih bergengsi. Saya mendapatkan promosi pertama bukan karena nilai kuliah, tapi karena atasan tahu bahwa jika ada pekerjaan mendesak, nama saya adalah yang pertama terlintas.
5. Terus Belajar Tanpa Henti
Jangan berhenti belajar saat ijazah sudah di tangan. Ikuti kursus online, baca buku di bidangmu, perhatikan tren industri. Di era sekarang, pengetahuan baru tersedia gratis atau murah di internet. Mereka yang memanfaatkannya akan terus maju; mereka yang berhenti belajar akan tertinggal.
6. Jaga Kesehatan Mental dan Fisik
Merantau bisa terasa sangat sepi, terutama di awal. Homesick adalah hal yang wajar dan manusiawi. Atur jadwal rutin menelpon keluarga, jaga pola makan dan tidur, dan jangan sungkan mencari teman berbicara ketika merasa berat. Banyak perantau ambruk bukan karena gagal secara profesional, tapi karena kesehatan mentalnya tidak terjaga.
7. Jangan Lupa Pulang
Sekeras apapun berjuang di rantau, jangan lupakan kampung halaman. Pulang bukan hanya tentang mengunjungi fisik tempat kelahiran, tapi juga tentang menjaga ikatan dengan akar. Kirimkan kabar kepada keluarga. Bantu adik atau keponakan yang butuh bimbingan. Kontribusikan sebagian rezeki untuk komunitas.
Ingatlah: ribuan alumni SMAN 1 Panyabungan telah membuktikan bahwa anak Mandailing bisa sukses di mana saja. Kamu punya darah yang sama, dan itu sudah cukup untuk memulai.
Selamat berjuang, adik-adikku.