Kembali ke Suara AlumniOpini

Menjaga Marwah Mandailing di Tengah Derasnya Arus Perubahan

22 Maret 2025·Nurul Fadillah Rangkuti (Angkatan 2010)

Ada satu momen yang tidak pernah saya lupakan. Beberapa tahun lalu, saya sedang mengantre di sebuah kafe di Jakarta ketika seorang kasir muda mendengar logat bicara saya yang sedikit berbeda.

"Kak dari mana asalnya?" tanyanya.

"Panyabungan. Mandailing Natal," jawab saya.

"Oh di mana itu?"

Pertanyaan polos itu menghantam saya seperti pukulan kecil yang mengejutkan. Bukan karena orang itu tidak tahu — tidak mungkin semua orang tahu semua tempat — tapi karena dalam hitungan detik itu, saya menyadari betapa rapuhnya keberadaan identitas kita di peta pengetahuan bangsa ini.

Mandailing bukan sekadar nama daerah. Mandailing adalah peradaban dengan sejarah panjang, dengan tor-tor yang anggun, dengan gordang sambilan yang menggemuruh, dengan nilai kekeluargaan yang terukir dalam adat, dengan filosofi hidup yang berpusat pada harga diri dan kehormatan keluarga. Ini adalah warisan yang tidak ternilai.

Tapi apakah kita cukup menjaganya?

Ketika Budaya Ditinggalkan demi Diterima

Saya melihat tren yang mengkhawatirkan di kalangan anak muda Mandailing yang merantau. Ada dorongan — baik tersurat maupun tersirat — untuk "melebur" dengan budaya arus utama agar lebih mudah diterima. Bahasa Mandailing ditinggalkan karena dianggap tidak modern. Adat dianggap ribet dan kuno. Nama-nama Mandailing yang indah kadang "dimodifikasi" agar terdengar lebih umum.

Saya tidak menghakimi siapapun. Saya sendiri pernah berada dalam godaan yang sama. Tapi semakin dewasa, saya semakin sadar: melebur bukan berarti maju. Melupakan akar bukan berarti tumbuh.

Justru di era ketika dunia semakin seragam karena globalisasi, keunikan budaya lokal adalah nilai yang semakin langka dan semakin berharga.

Peran Konkret Alumni PASMADA

PASMADA, sebagai komunitas alumni yang tersebar di berbagai penjuru negeri, punya posisi strategis. Kita adalah duta-duta budaya Mandailing yang tidak resmi — membawa nama, bahasa, dan nilai-nilai itu ke mana kita pergi.

Beberapa hal konkret yang bisa kita lakukan:

Pertama, ajarkan bahasa Mandailing kepada anak-anak kita. Bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai hadiah identitas yang akan mereka syukuri kelak.

Kedua, dukung seniman dan pengrajin lokal Mandailing. Ketika kita membeli kain tenun Mandailing dan membawanya sebagai oleh-oleh, kita bukan hanya membeli kain — kita sedang menghidupi sebuah tradisi.

Ketiga, ceritakan. Ceritakan kepada rekan kerja, teman, pasangan tentang Mandailing. Tentang keindahan lembah Batang Gadis, tentang masakan arsik yang tidak ada duanya, tentang sikap hormat kepada orang tua yang tidak pernah goyah.

Bukan Beban, Tapi Kehormatan

Menjaga budaya Mandailing bukan beban yang harus kita pikul. Ini adalah kehormatan yang diwariskan nenek moyang kita. Mereka membangun peradaban dengan darah, keringat, dan doa agar anak cucunya punya landasan berdiri.

Mandailing yang kuat bukan Mandailing yang terisolasi dari dunia. Mandailing yang kuat adalah yang percaya diri berdiri di panggung dunia sambil tetap bangga dengan siapa dirinya.

Jangan biarkan pertanyaan "Oh di mana itu?" menjadi kenyataan yang terus berulang. Jawaban terbaik adalah keberadaan kita yang membanggakan, di mana pun kita berada.