Rina tidak berniat membuka lemari itu. Ia hanya mencari selimut tambahan untuk malam yang tiba-tiba dingin di rumah ibunya. Tapi di balik setumpuk kain, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terduduk di lantai.
Seragam putih abu-abu yang terlipat rapi. Masih ada nama yang dijahit di kantong dada kirinya: RINA MARLINA, kelas XI-IPA-2. Kerahnya sedikit menguning di tepi, dan ada noda tinta biru yang sudah pudar di lengan kanannya — bekas pena yang bocor ketika ujian nasional praktikum.
Rina ingat betul hari itu.
Ia masuk ke SMAN 1 Panyabungan ketika SMA itu masih terasa sangat besar dan sangat menakutkan. Koridor-koridornya panjang, suara bel yang menggelegar, dan guru-guru yang tampak jauh lebih serius dari yang pernah ia bayangkan.
Tapi kemudian ia bertemu dengan Lina.
Lina yang selalu punya cadangan permen di saku seragamnya. Lina yang tertawa terlalu keras di kelas sehingga sering kena tegur Bu Siti. Lina yang, di hari pertama masuk, langsung duduk di sebelah Rina dan berkata, "Hai, kamu juga bingung ya? Sama. Ayo kita bingung bareng."
Tiga tahun kemudian, mereka wisuda sambil berpelukan di lapangan yang sama.
Rina membalik kerah seragam itu. Di bagian dalam, ada tulisan kecil dengan spidol hitam yang sudah memudar:
Lina + Rina BFF 4ever. 2009.
Ia tertawa pelan. BFF. Best Friends Forever. Kata-kata yang terasa sangat besar waktu itu.
Ia mengambil ponselnya dan membuka WhatsApp. Nama Lina ada di urutan teratas — mereka baru saja chatting tadi sore soal rencana reuni PASMADA bulan depan.
Rina mengetik: "Hei. Aku baru nemu seragam kita lama. Tulisan BFF-nya masih ada 😭"
Tiga titik muncul seketika. Lina sedang mengetik.
"APAAAA. Jangan bilang masih ada noda tinta ujian praktikum di lengannya?"
Rina menatap noda pudar di lengan kanan seragam itu, lalu tertawa sampai matanya berair.
"Masih ada."
"ASTAGA. Itu tanda sejarah. Itu artefak. Simpan baik-baik."
Rina duduk di tepi tempat tidur dengan seragam itu di pangkuannya. Di luar jendela, hujan mulai turun pelan-pelan di Panyabungan. Suara yang sama persis seperti yang dulu ia dengar dari dalam kelas ketika pelajaran Matematika terasa tak ada ujungnya.
Tiga tahun di sekolah itu terasa panjang waktu dijalani. Tapi dari jarak empat belas tahun, rasanya seperti tiga minggu saja.
Ia ingat wajah Pak Rasyid yang galak tapi ternyata paling murah hati nilai rapornya. Ingat perpustakaan yang selalu bau debu dan buku lama tapi entah mengapa terasa nyaman. Ingat kantin dengan gorengan pisang yang selalu habis sebelum istirahat kedua.
Ingat bagaimana rasanya menjadi muda dan tidak tahu apa-apa, tapi merasa bahwa segalanya mungkin.
"Besok reuni kan kamu datang?" ketik Lina lagi.
Rina melihat seragam itu sekali lagi. Nama yang dijahit di kantong dada: RINA MARLINA. Gadis yang pernah ia jadi.
"Datang," ketiknya. "Aku bawa seragam ini sekalian?"
"JANGAN. Nanti kita nangis semua di lapangan."
Rina tersenyum dan melipatnya kembali dengan hati-hati. Ia tidak akan memakainya. Tapi ia juga tidak akan membuangnya.
Ada hal-hal tertentu yang tidak perlu disimpan karena berguna. Cukup karena ia pernah ada, dan pernah membuat hidupmu menjadi seperti sekarang.