Kembali ke Suara AlumniCerpen

Pulang

15 April 2025·Budi Santoso Nasution (Angkatan 2007)

Pesawat itu menyentuh landasan Bandara Aek Godang dengan getaran kecil yang terasa seperti sapaan lama. Doni — 33 tahun, manajer keuangan di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan — menggenggam sabuk pengamannya sejenak. Bukan karena takut. Tapi karena ada sesuatu di dadanya yang tiba-tiba mengencang.

Lima belas tahun.

Begitu lama ia tidak pulang.


Di luar bandara, seorang lelaki tua berdiri dengan kemeja batik yang dimasukkan ke dalam sarung. Wajahnya lebih keriput dari foto yang terakhir Doni lihat di ponselnya. Tapi matanya — mata itu tidak berubah. Masih sama hangat dan dalamnya seperti dulu.

"Pak..." Doni tidak sempat menyelesaikan kalimat.

Pak Rustam, ayahnya, memeluknya tanpa berkata apa-apa. Pelukannya lebih erat dari yang Doni ingat. Doni tertegun, kemudian merasakan sesuatu yang sudah lama ia lupakan — rasa aman yang tidak bisa dibeli dengan gaji berapapun.


Rumah itu masih sama. Cat dindingnya mengelupas di beberapa sudut. Pohon mangga di halaman belakang sudah setinggi atap. Di dapur, aroma arsik ikan mas mengepul pelan — masakan yang hanya ibunya yang bisa membuatnya tepat seperti ini.

"Ibu masak apa yang kamu suka dulu," kata sang ibu sambil mengelap tangan di celemeknya. Matanya bersinar.

Doni duduk di kursi kayu panjang yang dulu selalu menjadi tempat favoritnya mengerjakan PR. Ada goresan kecil di tepi kursi itu — bekas pisau yang tidak sengaja ia gores ketika kelas dua SMA. Doni menelusuri goresan itu dengan ujung jari, dan tiba-tiba lima belas tahun yang lalu terasa begitu dekat.


Sorenya, Doni berjalan-jalan sendirian menyusuri jalan-jalan yang dulu ia hafal betul. Banyak yang berubah — ada minimarket baru, beberapa rumah lama sudah berganti wajah. Tapi ada yang tidak berubah: suara azan Maghrib yang bergema dari masjid besar di alun-alun kota, warna langit sore yang jingga membakar di atas perbukitan, dan senyum ramah orang-orang yang berpapasan dengannya.

"Eh, anak Pak Rustam ya? Yang di Kalimantan itu?" tanya seorang ibu yang sedang menyapu halaman.

Doni tersenyum. "Iya, Bu."

"Subhanallah, sudah besar ya. Sudah lama tidak pulang. Ayo mampir minum dulu!"

Di Jakarta, tidak ada yang mengundangnya mampir hanya karena berpapasan di jalan.


Malam harinya, Doni duduk di teras bersama ayahnya. Langit di Panyabungan penuh bintang — hal yang hampir tidak pernah ia lihat lagi selama bertahun-tahun hidup di kota. Mereka tidak banyak bicara. Tapi keheningan itu bukan keheningan yang canggung. Itu adalah keheningan dua orang yang sudah saling kenal sepenuhnya.

"Kapan balik?" tanya ayahnya akhirnya.

"Lusa, Pak."

Pak Rustam mengangguk pelan. "Tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik di sana."

Doni memandang langit. Ada bintang yang sangat terang di selatan. Ia tidak tahu namanya. Tapi ia yakin bintang itu selalu ada di sini, setiap malam, bahkan ketika ia tidak ada untuk melihatnya.

"Pak," kata Doni tiba-tiba. "Maaf sudah lama tidak pulang."

Pak Rustam menoleh dan tersenyum — senyum yang lembut dan penuh pengertian yang hanya bisa dimiliki oleh seorang ayah.

"Kamu tidak perlu minta maaf, Don. Rumah ini tidak pernah marah. Rumah ini hanya menunggu."


Dua hari berlalu terlalu cepat.

Di bandara, saat hendak masuk ke pintu keberangkatan, Doni berbalik sekali lagi. Ibunya melambai dengan sapu tangan putih kecil. Ayahnya berdiri tegap, tapi bibirnya bergetar sedikit.

Doni berjanji dalam hati: tahun depan ia akan pulang lebih cepat. Tidak akan menunggu lima belas tahun lagi.

Di atas pesawat, ketika Panyabungan mengecil menjadi titik-titik lampu di kegelapan malam, Doni baru menyadari sesuatu yang selama ini ia cari-cari di kota besar.

Rumah bukan tempat di mana kamu tinggal. Rumah adalah tempat di mana kamu paling menjadi dirimu sendiri.

Dan rumahnya ada di sini — di antara bintang-bintang selatan Mandailing Natal, di aroma arsik ibunya, di goresan kecil di tepi kursi kayu tua itu.

Selalu ada.